Showing posts with label Imam Husein As. Show all posts
Showing posts with label Imam Husein As. Show all posts

Wednesday, November 14, 2012

Hasan dan Husein

Oleh Prof Dr. Hamka

Prof. Dr. HAMKA mantan Ketua Majlis Ulama se-Indonesia. Juga beliau seorang Tokoh organisasi Muhammadiyah, seorang Ulama yang terkenal di banyak Negara-Negara Islam. Seorang Da'i ataupun Moballigh Islam. Seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku Islam dan umum, tidak kurang dari 113 buku, dan juga banyak memberi ceramah-ceramah agama di TV/Radio di Indonesia, Malaysia dan Negara Islam lainnya. Juga beliau telah menulis
tafsir al-Quran al-Azhar (30 juzu').

Prof. Dr. Hamka telah menulis dalam kata Sambutan buku karangan H.M.H.Al Hamid Al Husaini yang berjudul Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar, dan Kehidupan Islam pada Zamannya. Beliau dalam permulaan kata sambutan itu telah membawa kata-kata mutiara dari al Imam Asy Syafi'i, yang berupa sya'ir berkenaan Ahlulbaiyt yang maksudnya: "Jika saya akan dituduh orang Syiah karena saya mencintai keluarga Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin, bahwa saya ini adalah penganut Syi'ah."(Al Imam Asy Syafi'i r.a)

Dengan kata-kata yang begitu tegas Al Imam Asy Syafi'i menyatakan pendiriannya 13 abad yang telah lalu. Beliau dengan syi'ir yang begitu gamblang menjelaskan pendiriannya, yaitu beliau mencintai keluarga Muhammad s.a.w. ia itu anak-anak dan cucu-cucu beliau.

Jelas beliau tiada beranak laki-laki, karena anak laki-laki meninggal semua diwaktu kecilnya. Tetapi sebagai manusia beliau ingin mempunyai keturunan yang laki-laki. Sebab itu sebagai manusia beliau ingin akan keturunan itu. Ketika lahir puteranya yang terakhir, Ibrahim dari perkawinannya Mariah Al-Qubthiah, sangatlah beliau berbesar hati, karena inilah yang akan menyambung keturunannya, sedang usia beliau ketika anak itu lahir sudah lebih 60 tahun, sudah tua !

Namun Ilmu Ilahi lebih tinggi daripada Ilmu manusia ! Ibrahim yang diharapkan penyambung turunan itu, meninggal dunia dikala ia masih menyusu. Kematian ini sangat membawa dukacita kepada Nabi s.a.w. sampai titik air mata beliau dari sangat terharu.
Terkenal ucapan beliau s.a.w. ketika anak tercinta itu meninggal:" Hati sedih, air mata berlinang, namun dari mulut tidaklah akan keluar kata-kata yang tidak diriedhai oleh Tuhan kita." Beliau bertambah tua. Harapan buat beranak laki-laki sudah tipis. Tetapi beliau ada mempunyai anak-anak perempuan:

1.Zainab.
2.Ruqayyah.
3.Ummu Kultsum dan
4.Fatimah.

Zainab kawin dengan Ibnul 'Aash, Ruqaiyyah dan Umu Kultsum kawin dengan "Uthman bin 'Affan berganti, karena Ruqayyah meninggal selagi muda, lalu Nabi s.a.w.mengawinkan "Uthman dengan "Ummu Kulthum lalu diberi gelar oranglah 'Uthman dengan:"Dzin Nuraini" (yang mempunyai dua cahaya).

Adapun Fatimah beliau kawinkan dengan Ali bin Abi Thalib. Perkawinan Fathimah dengan 'Ali bin Abi Thalib adalah pearkawinan paling ideaal menurut masyarakat 'Arab. Sebab Nabi Muhammad s.a.w. adalah putera Abdullah dan Abdullah adalah putera dari Abdul Muthalib. Sedang 'Ali , yang diambilnya jadi suami anaknya Fathimah, adalah anak dari Abi Thalib dan Abi Thalib adalah anak pula dari Abdul Muthalib. Sebab itu maka Abi Thalib ayah 'Ali adalah saudara satu ayah dengan Abdullah ayah Nabi s.a.w. Sebab itu meskipun Nabi s.a.w. tidak dikurniakan anak laki-laki besarlah harapan beliau moga-moga Fathimah Azzahra yang telah kawin dengan 'Ali mendapat keturunan anak laki-laki yang diharapkan. Pada tahun ketiga Hijriyah lahirlah anak pertama, dinamai Hasan. Setahun dibelakang itu lahir anak kedua, dinamai Husain. Nabi s.aw. sangat mencintai kedua cucu ini. Abu Ahmad Al-Askari mengatakan: "Dizaman jahiliyah belum dikenal orang kedua nama itu."

Al-Bukhari, perawi Hadis terbesar meriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulallah s.a.w. pernah bersabda yang maksudnya: "Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku dalam dunia ini." Di dalam sebuah Hadits lagi yang dirawikan oleh Att Tirmizi dari Usman bin Zaid, pernah Nabi s.a.w.bersabda yang maksudnya: "Keduanya ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku. Ya Allah! Aku mencintai keduanya dan akupun cinta kepada siapa yang mencintai keduanya."

Menurut riwayat Al Bukhari yang diterimanya dari Abi Bukrah, dia ini berkata: "Aku pernah melihat Nabi s.a.w.sedang berdiri di atas mimbar sedang Hasan duduk melihat sebentar kepada orang banyak, lalu melihat pula kepada Nabi s.a.w. sebentar. Maka bersabdalah Nabi s.a.w. yang maksudnya: "Sesungguhnya anakku ini adalah Sayid (Tuan). Dan moga-moga Allah akan mendamaikan dengan anak ini di antara dua golongan kaum Muslimin." Dengan kedua sabda ini, Nabi s.a.w. saking kasihnya telah memproklamirkan (mempamirkan) kepada seluruh ummatnya, bahwa anak 'Ali bin Abi Thalib dalam perkawinannya dengan Fathimah itu adalah anak beliau juga ! Atau cucu beliau juga !

Tuesday, November 13, 2012

Imam Husein Meninggalkan Ibadah Hajinya?



Tanya: Mengapa Imam Husain as. pergi meninggalkan Makkah padahal ibadah Haji yang beliau laksanakan masih belum selesai?

Jawab: Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita perlu memperjelas suatu permasalahan terlebih dahulu. Sebenarnya, dari sudut pandang ilmu Fiqih, tidak benar jika kita mengatakan Imam Husain as. pergi meninggalkan Makkah padahal ibadah Haji nya belum usai; karena beliau pergi meninggalkan Makkah dan Haji nya pada tanggal 8 Dzul Hijjah, yaitu Yaum Tarwiyah.[1] Padahal, ibadah Haji—yang dimulai dengan Ihram di Makkah dan Wuquf di Arafat—dimulai dari malam ke-9 Dzul Hijjah. Dengan demikian, Imam Husain as. belum memulai ibadah Hajinya. Maka, kita tidak bisa mengatakan bahwa beliau meninggalkan Haji yang belum usai.
Memang benar bahwa Imam Husain as. melakukan Umrah Mufradah saat beliau memasuki Makkah, dan mungkin juga beliau melakukan ibadah Umrah berkali-kali selama tinggal di Makkah beberapa bulan. Tapi perlu diketahui bahwa orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan Umrah bukan berarti telah memulai melakukan ibadah Haji. Di sebagian riwayat dengan tegas disebutkan bahwa Imam Husain as. hanya melakukan Umrah Mufradah.[2]
Adapun jika kita menelaah sejarah yang ada, memang kita pasti akan bertanya-tanya tentang mengapa Imam Husain as. tiba-tiba meninggalkan Makkah begitu saja padahal pada musim Haji Makkah selalu dipenuhi oleh Muslimin dari berbagai tempat yang merupakan kesempatan emas bagi beliau untuk mengutarakan pemikiran-pemikirannya? Kita akan meneliti lebih jauh alasan apakah yang beliau miliki untuk meninggalkan Makkah.

Bahaya yang dimungkinkan menimpa nyawa

Dari beberapa ucapan Imam Husain as. sendiri yang beliau ungkapkan kepada beberapa orang, kita dapat memahami bahwa menurut beliau Makkah sudah tidak aman lagi. Sebagaimana yang pernah beliau katakan kepada Ibnu Abbas, “Bagiku lebih baik mati di tempat lain dari pada harus mati di Makkah.”[3]
Dalam perbincangannya dengan Abdullah bin Zubair, beliau juga sempat berkata, “Demi Tuhan, lebih baik aku mati di luar Makkah meski hanya berjarak satu jengkal dari kota itu dari pada aku mati di dalamnya. Demi Tuhan, mereka akan menyeretku keluar meskipun aku bersembunyi di sarang-sarang hewan. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan dariku.”[4]
Imam Husain as. pernah menerangkan kepada saudaranya, Muhammad bin Hanafiyah, bahwa Yazid berencana untuk membunuhnya meski ia berada di dalam Haram suci Ilahi.[5] Tercatat pula dalam sejarah, bahwa Yazid pernah mengutus utusan-utusan bersenjatanya ke Makkah untuk meneror beliau.[6]

Menjaga kesucian Haram Ilahi

Dalam lanjutan dari ungkapan-ungkapan Imam Husain as. di atas disebutkan bahwa beliau tidak ingin kesucian Haram Ilahi terkoyak dengan tertumpahnya darah beliau; meskipun jelas sekali yang menanggung dosa besar adalah pihak para musuh.
Hal ini beliau jelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada Abdullah bin Zubair yang mana beliau berkata, “Ayahku Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku bahwa pada suatu hari akan terjadi suatu peristiwa di Makkah yang mengoyak kesucian rumah Allah. Oleh karena itu aku tidak mau menjadi perwujudan dari peristiwa itu.”[7]



[1] Ibid, halaman 147.
[2] Imam Shadiq as. berkata, “Sesungguhnya Husain bin Ali as. keluar dari Makkah pada hari Tarwiyah menuju Iraq dalam keadaan sedang ber-Umrah.” –Wasailus Syi’ah, jilid 1, halaman 246, Kitabul Haj, bab 7, Abwabul Umrah, jilid 2 dan 3.
[3] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, jilid 8, halaman 159.
[4] Waq’atu at Thaff, halaman 152.
[5] Sayid bin Thawus, Luhuf, halaman 82.
[6] Ibid. Diduga dalam matan kitab ini terjadi kesalahan penulisan, karena disebutkan dalam matan tersebut bahwa pemimpin mereka adalah Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, yang mana dalam matan-matan lain dijelaskan bahwa yang benar adalah Amr bin Sa’id bin Ash.
[7] Ibnu Atsir, Al Kamil fi At Tarikh, jilid 2, halaman 546.

Monday, November 12, 2012

Detik-Detik Asyura


Syair Imam Husein as:

Jika agama kakekku takkan tegak kecuali dengan jalan harus dibunuhnya aku..?
Maka, wahai pedang-pedang kaum durjana perangilah aku..!
Wahai kematian, datanglah dan aku menyongsongmu
Ketahuilah, batas kehidupan dan kematian adalah semu.
Aku lindungi keluarga Muhammad SAW darimu
Aku perangi kalian dengan tanpa ragu dan jemu
Bagiku kehidupan dan kematian adalah sama
Kematian sang at indah di mata sang kesatria
Kehidupan adalah masa di mata sang jawara.
Kematian pasti datang mencari mangsa
Celakalah orang yang menjajakan agama demi harta dan tahta
Celakalah orang yang memerangi Marga Thoha
di akhirat nanti mereka akan merangkak mengemis iba.

Di dalam kemah tangisan para putri Nabi SAW semakin menjadi, tak tega melihat putra bungsu Al-Husain’As yang berusia 5 bulan menggelepar kehausan, suara tangisannya parau dan lirih. Al-Husain As membawa, mengangkatnya tinggi-tinggi bayi itu agar tampak oleh lawan, memohon secangkir air bagi bayinya, dengan bersabda:

” Hai kaum durjana… kalian biarkan kaum Yahudi dan Nasrani bahkan kuda, anjing dan babi minum di sungai Eufrat. Aku mohon secangkir saja untuk bayi ini…! “

Seorang pasukan lawan menjawab sambil melepaskan anak panahnya: Inilah air kiriman dariku..! Al-Husein As terkejut mendengar tangis bayinya terhenti seketika… Al-Husain As terhentak merasakan cairan hangat mengaliri kepala, wajah, terus turun kebawah, dan ternyata darah..! Bayi itu diturunkannya, sekujur tubuh Al-Husain As menggigil melihat kenyataan yang tak terduga… Bayi itu diletakkan di atas tanah, Al-Husain As mencabut perlahan anak panah yang menancap di leher menembus dada bayinya, memancarlah darahnya, lalu ditadahinya dengan kedua telapak tangannya, dan dilemparkannya ke arah langit sambil berteriak:

” Terimalah persembahan awalku ya Allah…! “

Banyak penulis yang menyaksikan, darah yang dilemparkan kelangit itu, tidak turun kembali ke bumi. [Buku The Saviour oleh Antoane Bara ].

Inna Lillahi wa inna Ilaihi rojiun Ali Al-Ashghor wafat putra Imam Husain As yang terkecil. Al-Husein As memerintahkan menyerang satu persatu, mulai dari Sahabatnya, saudaranya, semuanya wafat, lalu giliran putranya yang terbesar bernama Ali Akbar. Ali Akbar menyerang dan terus menyerang lalu kembali menemui ayahnya:

” Duhai ayah Rasa haus ini mencekik leherku, kini seakan aku tak mampu lagi memegang pedang, adakah setetes air guna memulihkan tenagaku..? “
” Berperanglah semampumu nak… Kakekmu menantimu dan telah menyiapkan segelas madu merah dan surga nak…”

Ali Akbar menyerang memacu kudanya, lawannya menghujani anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya, sebuah tombak menghunjam dilambungnya, Ali Akbar terhuyung di atas kudanya Al-Husein melesat memeluknya agar tidak jatuh terjerembab ke tanah. Dalam pelukan ayahnya, Ali Akbar tersenyum dan bersuara parau:

Maafkan aku ayah…. Aku tidak mampu lagi membantumu… Aku sangat mencintaimu ayah…”

Bibirnya, sekujur tubuhnya bergetar dalam pelukan ayahnya, lalu Al-Husain mengucapkan:” Inna Lillahi wa Inna Ilaihi rojiun. terimalah persembahan awalku Ya Allah.. !
.
Al-Husain berperang tiada lesu dan jemu, pasukan Umar yang licik itu menghujani anak panah yang memenuhi sekujur tubuhnya, hingga Al-HusainAs tiada berdaya lagi, pasukan Umar mengitari, menebas kedua lengannya dengan terbahak-bahak.

Al-Husain As berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang tak berlengan, berjalan terhuyung-huyung menuju ke kemah adiknya, tiba-tiba tiga tombak dihunjamkan dan robohlah sang pahlawan Rasulullah SAW itu..!

Sy Zainab menutup matanya, lalu membukanya kembali dan terlihat matahari memerah seakan marah, membelalakkan mata seakan murka menyaksikannya, dan terhentak terhenti dari peredarannya, tiada mau masuk keperaduannya.

Kemudian datanglah Syimir bin Zil Jauzan dengan beringas bangga sambil terbahak-bahak mencabuti tombak, anak panah dengan kasar, lalu duduk di dada Al-Husain As, yang semakin menyesakkan nafasnya, Al-Husain As dengan nafas yang tersisa bersabda:

H : Siapakah engkau..? Dan apa yang membuatmu menjadi begitu biadab..? siapakah aku yang kau duduki dadanya ini..?
S : Aku Syimir dan engkau Husain bin Ali..
H : Bila kau tahu, mengapa kau masih berniat membunuhku..?
S : Aku mengharap imbalan dari khalifah Yazid..
H : Tidakkah kau harapkan syafaat dari kakekku..?
S : Imbalan dari Yazid lebih aku dambakan..
H : Sebelum kau bunuh, berilah aku air minum dulu…
S : Bukankah kakekmu telah menyiapkannya di surga..?
H : Bukalah penutup wajahmu dan kakekku bersabda: pembunuhku, lelaki berwajah rusak menakutkan dan di sekujur tubuhnya berbulu sangat kasar, hingga tidak memikat babi hutan.
S : Engkau dan kakekmu sama-sama terkutuk dan akan aku potong pada setiap persendianmu dengan perlahan, sebagai imbalan dari ucapan kakekmu itu…!

Syimir mulai melucuti persendian jari-jari kaki, tangan Al- Husain As dengan perlahan, pada puncak kegeramannya Syimir menempelkan pedangnya di leher Al-Husain, tetapi pedang Syimir tak dapat melukai leher Al-Husain As, Syimir berganti-ganti pedang, namun lehernya tak tergoreskan, Syimir menekan pedangnya di leher Al-Husain, lalu menggeleng-gelengkan kepala Al-Husain dan tetap saja leher itu tak tergoreskan. Syimir bingung, putus asa, kemudian datang seseorang yang melihatnya berkata: Leher Al-Husain itu selalu diciumi oleh Rasulullah SAW.

Syimir membalik, menelungkupkan tubuh Al Husain As yang tak berdaya, Al-Husain mengarahkan pandangannya tertuju kepada sy Zainab adiknya…. Syimir menyembelihnya dari belakang lehernya…. Sy Zainab menjerit, pekikkannya merobek-robek langit. Bersama kewafatan Al-Husein As, mataharipun terjun menenggelamkan dirinya kedalam bumi pada hari Jum’at tanggal 10 Muharram 61 H. Innalillahi wa inna Ilaihi rojiun….

Kudanya datang ke kemah Sy Zainab tanpa penunggangnya penuh dengan luka dan dengan air matanya berbela sungkawa.

Di Madinah, setiap sore mengamati air bercampur tanah di dalam botol yang tiba-tiba berubah menjadi darah dan Ummu Salamah ra menjerit menangis mengabarkan kepada orang akan wafatnya Al-Husain As, para Sahabat Nabi SAW menangis melaknat Yazid.

Kepala Al-Husain As ditancapkan di ujung tombak diarak dipertontonkan, dibelakangnya barisan keluarga Rasulullah SAW dirantai tangan dan kakinya di giring bagaikan tawanan perang yang dihinakan menuju Kufah hingga ke Syam.

Diperjalanan tiba-tiba alam menjadi gelap gulita, pasukan pengawal mengistirahatkan membuka rantai para tawanan, sy Syaharbanu ra keguguran karena kelelahan.

Pendeta Bhuhaira tertegun, berjalan menuju sinar yang menjulang kelangit dan diketahuinya pusat sinar itu dari kepala Al- Husain As yang tertancap diujung tombak.

Pendeta itu membayar mahal untuk meminjam semalam kepala Al-Husain As. Kepala Al-Husain As dibedirikan perlahan di atas meja, di bersihkannya kepala, wajahnya dari darah bercampur tanah yang melekatinya, mengelapnya dengan kapas dan air hangat, tanpa henti jari jemarinya bergerak lembut, meminyaki dan menyisir rambutnya hingga wajah Al-Husain As bersih ceria.

Pendeta Bhuhaira memandanginya, menciumi wajah mulia itu sambil berkata:

Aku yakin engkau orang mulia, keturunan orang mulia, salamku untukmu, ayahmu, kakekmu, bila engkau keturunan Ahmad Nabi akhir zaman, sampaikanlah salamku dan katakan aku beriman kepadanya nak…

Keluarga Nabi Muhammad SAW yang tersisa akhirnya sampai di Syam dalam keadaan kelelahan tangan, kaki membengkak berdarah karena rantai besi yang diikatkannya.

Tawanan disambut senyum kesinisan, tawa penghinaan, kalimat menyakitkan, sesampainya di Syam, kaki, tangan dibuka borgolnya dengan kasar oleh pengawal menampakkan kebencian yang dipamerkan dihadapan tuannya demi harapkan sanjungan dan jasa.

Pasukan lemparkan kepala Al-Husain As dengan kasar di lantai, Keluarga Nabi SAW terhentak menyaksikannya

oleh deraan kenyataan yang menyakitkan, penguasa tahta kedholiman, Yazid berbicara sambil menginjak kepala Al-Husain As, yang melihatnya pasti akan berkata:

Perbuatannya memerihkan mata. Hentakannya menyesakkan dada. Kalimatnya meledakkan kepala. Kata-katanya memekakkan telinga. Nada-nadanya melunglaikan raga Aksinya menjerat jiwa. Kesombongannya mendirikan bulu roma. Beginilah nasib pemburu akherat harus menerima dera nestapa dunia.

Saat diinjak, kepala Al-Husain As bersabda:

” Kamu telah memisahkan kepalaku dari tubuhku….” Kepala Al-Husain As dipecutinya hingga diam. [The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 148 ].

Ibnu Wakidah mendengar kepala Al-Husain As membaca Surat Al-Kahfi, Ibnu Wakidah ragu dan sangsi bila suara itu keluar dari lisan kepala itu, tiba-tiba beliau berhenti mengaji dan kepala Al-Husain menoleh ke arahnyanya sambil bersabda:

” Hai Ibnu Wakidah.. Tidakkah kamu tahu bahwa kami para Imam selalu hidup dan diberi rizki di sisi Tuhan-Nya..?”

Ibnu Wakidah berniat mencuri kepala itu dan menguburkannya, tiba-tiba kepala itu bersabda:

” Hai Ibu Wakidah… Tidak perlu melakukan hal itu, karena perbuatan mereka yang menumpahkan darahku lebih berat di sisi Allah SWT daripada yang membawaku berjalan di ujung tombak, maka biarkanlah, mereka kelak akan mengetahui, saat dibelenggu dengan rantai dileher mereka sambil diseret. [ The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 149 ] .

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS 2:154

” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di Jalan Allah [bahwa mereka itu] mati, bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.

Minhal bin Amr berkata:

Aku melihat kepala Al-Husain As di ujung tombak, di depannya ada seorang yang membaca Surat Al-Kahfi hingga sampai pada ayat:

” Dan [yang mempunyai] rahim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan… ” Kepala itu bersabda dengan bahasa yang fasih: Ada yang lebih mengherankan daripada Ashhabul Kahfi yaitu pembunuhan terhadapku dan membawa kepalaku. The Saviour: Al-Khshalsh As-Suyuthi 2:127 ].

Saat Yazid memerintahkan membunuh seorang utusan kaisar Romawi yang membela Al-Husain tiba-tiba kepala itu bersuara keras:

La haula wa la quwwata ilia Billah
The Saviour: Magtal Al-Awalim: 151].

Hampir sebulan Yazid terpuaskan dan akhirnya membebaskan. Kafilah suci pergi menuju Karbala guna menyambung jari jemari, betis, lengan disatukan dengan tubuh dan kepalanya, lalu jenazah Al-Husain dishalati dan dimakamkan di Karbala.

Kafilah suci lalu pergi menuju Madinah guna melaporkan semua kejadian kepada kakeknya kepada ibunya pertanda tugas suci Sy Zainab telah diselesaikan dengan baik.

Sesampainya di Madinah dari Karbala, seluruh keluarga itu mengalami keguncangan yang kesekian kalinya, kali ini ledakan dahsyat dalam hati dan fikiran menyatu dalam perasaan ingin mengadukan kepada kakeknya Rasulullah SAW di pusaranya.

Semuanya berlari ingin segera mencapai pusara, di masjid Nabawi, setelah melihat makam kakeknya, tubuh beliau itu terhenti, mendadak bergetar dan lunglai terjatuh di pelataran masjid, beliau tak mampu berdiri lagi dan merangkak menuju pusara Nabi Muhammad SAW guna menguras isi hatinya.
Sy Zainab ra membuat acara peringatan Arbain, seluruh penduduk Madinah hadir dan menangisi Al-Husain As.

Yazid mendengar dan merasa khawatir lalu bersurat kepada Walid gubernur Madinah, yang kemudian mengusir sy Zainab ra dari Madinah, pergi ke Mesir. Sy Syaharbanu ra istri Imam Husain As menuju kemakam Rasulullah SAW, menangis, mengadu:

Benar sabdamu ya Rasulullah bahwa: Ahlul Baitmu padanan Al- Qur’an yang tak dapat dipisahkan. Dahulu di Shiffin pasukan Muawiyah menancapkan AlQur’an di ujung tombak untuk melanggengkan kekuasaannya. Kini di Karbala pasukan Yazid bin Muawiyah menancapkan kepala Husainmu, Ahlul Baitmu diujung tombak pula demi melanggengkan kekuasaannya. Dan sempurnalah kekejian Bani Umaiyah terhadap Bani Hasyim….

Benar sabdamu ya Rasulullah…. Kesyahidan Al-Husain membuat tiara di dalam hati orang orang beriman yang tidak akan pernah padam untuk selama-lamanya. Ya Rasulullah… doakan aku segera menyusulnya… Demi Allah… Aku tak sanggup hidup lagi…

Sy Syaharbanu memohon kepada kerabatnya untuk segera membongkar atap rumahnya, sambil menangis Imam Ali Zainal Abidin As bersabda:

ZA : ” Duhai ibuku…Bila atap rumah ini dibongkar maka engkau akan wafat oleh sengatan panasnya matahari Bu…”
Ibu: ” Aku telah menyaksikan ayahmu selalu terkena sengatan matahari dalam keadaan haus dan lapar dipaksa untuk berperang dan wafat kehausan…. Apakah aku akan lari dari sengatan matahari nak.? Keinginanku segera wafat nak… Dan engkau ku titipkan kepada Allah SWT… Maafkan… maafkan ibu nak… Aku tak dapat melupakan saat ayahmu ditelungkupkan nak… Semoga Allah memberikan ketabahan kepadamu nak.”

Semakin lama semakin banyak yang meminangnya, akan tetapi setiap pinangan yang hadir, bagai tusukan duri di hatinya. Setahun kemudian Syaharbanu wafat. Inna Lillahi w a inna Ilaihi rojiun…

Kita telah mengetahui sekelumit perjuangan, penderitaan Ahlul Kisa’ As yang sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

” Tiada penderitaan [ujian] seorang Nabipun seperti penderitaanku dan tiada penderitaan sebuah keluarga pun seperti penderitaan keluargaku.

Tiada Zat Semulia Allah SWT
Tiada Malaikat semulia Jibril As
Tiada Kitab semulia Al-Qur’an
Tiada Nabi semulia Nabi Muhammad SAW
Tiada Insan semulia Ahlul Bait As.

Al-Hasan dan Al-Husain yang benihnya ditanam oleh Rasulullah SAW dan tunasnya terpelihara di istana ke-Nabian dan di taman ke Imaman hingga berbunga dengan aroma semerbak keharumannya. Harum kebenaran Ilahi di atmosfer akidah Islami. Penyejuk mata dan hati bagi Sang Nabi.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW naik di atas mimbar dalam keadaan sedih meletakkan telapak tangan kanannya di kepala Al- Hasan dan yang kiri di kepala Al-Husain lalu bersabda:

” Ya Allah…. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Rasul-Mu.. dua anak ini adalah keturunanku yang terbaik dan utama yang aku tinggalkan di tengah umatku, Jibril As telah memberitahuku bahwa keduanya akan diburu dan dibunuh dengan racun dan pedang.
Ya Allah…. Berkahilah ia dalam kesyahidannya dan jadikanlah dia penghulu para Syuhada….

Rasulullah SAW saat mengimami shalat Isya’ dalam sujudnya sangat lama, setelah shalat Sahabat bertanya mengapa saat sujud tadi sangat lama ya Rasulullah…? Rasul SAW: ” Husain naik dipunggungku, aku biarkan sampai ia turun sendiri…! “

Rasulullah SAW memberikan manisan lebih banyak kepada salah seorang teman Al-Husain As, saat Al-Husain bertanya, maka Rasulullah SAW bersabda:

” Temanmu yang satu itu lebih mencintaimu ya Al-Husain…

Pada acara Arbain para penyair dari berbagai daerah bahkan luar negeri berdatangan dengan mempersiapkan syair-syairnya untuk dibaca pada acara tersebut, sangat banyak yang membawakan syairnya secara bergantian, tidak terhitung banyaknya penyair yang pingsan pada saat membaca syairnya itu. Ada seorang pemuda belia yang rupawan naik keatas panggung sambil membawa secarik keatas cukup lama dia berada di atas panggung karena perasaan cintanya kepada Al- Husain As pemuda itu tak mampu berucap pandangan matanya mengarah ke atas tubuh dan bibirnya bergetar dari sela-sela bibirnya keluar suara ” Yaa Husain…” lalu pingsan.

Syair pujian Khalil Gibran untuk Imam Husain as:

” Kesyahidan yang dipersembahkan oleh Al-HusainAs mengajarkan kepada manusia bagaimana dari keadaan teraniaya bisa meraih kemenangan.”

Mahatma Gandhi yang beragama Hindu dari India:

” Kesyahidan Husain itu mengajarkan kepada jiwa bagaimana ia menyalakan, berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa mencerahkan yang utama dan prinsip-prinsip yang luhur, sehingga interaksinya menggoncangkan tabiat, seperti kegoncangan yang jatuh cinta yang kacau pikirannya karena mengingat rupa kekasihnya, kemudian ia mengekalkannya dalam kalam, syair, dan keindahan, hingga catatan itu di abadikan oleh sejarah. Hal itu agar menjadi biografi yang paling kekal bagi kesyahidan yang paling agung ini, dan agar menjadi seindah-indah ucapan untuk sesempurna sempurna bentuknya.”

Menyambut Asyura


Berikut wawancara Islam Alternatif (Islat) dengan Ustadz Abdullah Beik MA seputar Asyura (10 Muharram).

Islat: Apa yang mendasari pengikut mazhab AhlulBait memperingati hari syahadah Imam Husain (as) atau yang disebut dengan "Asyura"?

A Beik: Banyak faktor yang mendasari hal itu, di antaranya sebagai berikut:

a. Adanya teks-teks hadis secara umum tentang keharusan kita mencintai Imam Husain (as) sebagai salah seorang dari pribadi-pribadi keluarga Nabi yang disucikan. Dan salah satu bentuk mengekspresikan kecintaan itu dengan memperingati hari lahir dan wafat beliau.

b. Adanya contoh dari para Imam suci AhlulBait (as) atas hal itu, bahkan diriwayatkan berbagai hadis yang menyebutkan tentang keutamaan memperingati hari Asyura dengan berbagai ritual khusus, seperti membaca Doa Ziarah Asyura, saling mengucapkan ucapan bela sungkawa sesama mukmin dan bahkan adanya riwayat yang melarang kita untuk melakukan aktivitas ekonomi (mata pencarian) di hari itu, karena hari itu adalah hari yang tidak akan membawa berkah.

c. Momentum yang tepat untuk menghidupkan sebuah fakta dalam sejarah yang pernah ditulis dengan tinta merah yang dengan terus memperingatinya, kita akan tetap mengingat dan tidak melupakannya. Selanjutnya akan kita jadikan sebagai sebuah penguman acara besar di depan mata kepala dan hati kita, agar dapat kita petik berbagai hikmah dan pelajaran yang sangat berguna sebagai bekal kita mengarungi dan menjalani kehidupan keseharian kita.

d. Kita memiliki tugas untuk melestarikan (membudayakan) ajaran agama dan memberikannya sebagai tongkat yang harus tetap dipegang oleh generasi berikutnya. Tanpa peringatan-peringatan seperti itu, maka nama, sejarah dan tribulasi perjuangan Imam Husain (as) akan hilang dan tidak akan dikenal oleh anak dan cucu kita.

Coba bayangkan jika maulid Nabi kita Muhammad (saw) tidak pernah diperingati, maka pasti kita tidak akan tahu kapan Nabi dilahirkan, bagaimana tribulasi perjuangan beliau dan apa pesan dan ajaran sucinya. Anak-anak kita tidak akan tahu hal itu, walapun ditulis dalam buku-buku sejarah. Sama halnya dengan hari kelahiran para tokoh dan pahlawan; sebut saja Imam Bonjol, Diponegoro dan lain-lain, walaupun ditulis di dalam buku-buku sejarah dan dipelajari di sekolah-sekolah, namun karena tidak diperingati, maka tidak melekat di pikiran kita kapan beliau-beliau lahir, apalagi ajaran dan pesan-pesan berharganya.

Islat: Bagaimana dengan peringatan yang diisi dengan tangisan, memukul kepala dan dada dengan tangan bahkan memukul kepala dengan pisau dan pedang?

A Beik: Seperti yang disebutkan di atas, banyak tindakan dan ucapan yang dapat dilakukan dalam rangka mengekspresikan kesedihan kita, selama tidak ada larangan atas hal itu, maka boleh-boleh saja. Oleh karena itu sesuai fatwa para ulama, khususnya Imam Sayyed Ali Khamenei al-Khurasani (semoga Allah memanjangkan umur beliau), boleh-boleh saja memukul dada dan kepala dengan tangan. Adapun memukul kepala dengan pedang dan segala hal yang melukai atau mencelakakan fisik, maka hal itu tidak diperbolehkan dan haram hukumnya.

Islat: Bagaimana halnya dengan hadis-hadis Nabi yang melarang praktik itu?

A Beik: Pertama: Yang dilarang oleh Nabi –sejauh yang saya tahu- adalah menempeleng wajah sendiri, merobek baju dan mencabut rambut. Imam Khomeini (rah.) di dalam kitab Tahrirul Wasilah, kumpulan fatwa beliau, menyebutkan akan larangan hal tersebut. Adapun memukul dada dan kepala dengan tangan, maka tidak ada larangan. Oleh karena itu boleh-boleh saja.

Kedua: Nabi melarang hal itu dalam konteks orang yang ditinggal mati oleh ayah, ibu atau keluarganya yang lain dan melakukan hal itu sebagai ekspresi ketidakrelaan mereka akan takdir dan ketetapan Allah Swt. Namun yang dilakukan oleh pengikut AhlulBait bukan atas dasar itu, namun atas dasar kecintaan dan mengekspresikannya.

Islat: Sebagian orang menganggap memukul-mukul dada dan kepala itu adalah budaya orang Iran atau Persia di saat ditimpa musibah, mengapa itu menjadi sebuah anjuran dan "sunnah" secara umum?

A Beik: Pertama, sulit untuk dibuktikan, bahwa hal itu adalah budaya orang Iran saja ketika ditimpa musibah. Sebab banyak orang Arab, Pakistan dan India yang melakukan hal itu. Coba lihat orang-orang Palestin ketika mendapati anaknya dibunuh oleh tentara zionis Israel mereka memukul dada dan kepalanya.

Kebanyakan orang Indonesia pun ketika lupa sesuatu memukul dahi, sebagai tanda kesedihan, mengapa hal itu dilupakan?

Kedua, kalaupun hal itu benar dan memang budaya Iran saja, tidak bermasalah, sebab yang penting adalah apa yang mendasari kita melakukan hal itu, yaitu ekspresi kecintaan dan kesedihan, jika ada ekspresi dalam bentuk lain, maka boleh-boleh saja dan tetap akan mendapatkan pahala karena niat yang mendasarinya.

Islat: Apa hukum puasa di hari Asyura?

A Beik: Puasa biasanya disunnahkan pada hari-hari bahagia sebagai tanda syukur kepada Allah Swt atas kenikmatan yang kita terima atau terhindar dari sebuah musibah dan bahaya. Oleh karena itu pada hari-hari kelahiran Nabi atau Imam dianjurkan berpuasa sebagai rasa syukur kita akan kelahiran mereka sebagai pemandu dan pemberi petunjuk untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan. Begitu juga dengan hari pengangkatan Nabi, hari pengangkatan Imam dan seterusnya. Kecuali hari raya Idul Fitri dan Idul Adha memiliki hukum khusus, walaupun itu adalah hari bahagia, namun kita diharamkan melaksanakan puasa.

Berkenaan dengan hari Asyura bukanlah hari bahagia namun hari kesedihan. Oleh karenanya kita dilarang berpuasa, yang ada hanyalah dianjurkan untuk imsak (baca; tidak makan dan tidak minum) sampai waktu Zuhur dalam rangka lebih meresapi dan merasakan kehausan yang dialami oleh Imam Husain, keluarga dan sahabatnya saat itu.

Islat: Bukankah ada hadis-hadis yang sering disampaikan oleh para ustadz dan ulama, bahwa hari itu disunnahkan berpuasa?

A Beik: Memang benar sering kita dengar hal itu, bahkan disebutkan pula alasan-alasan dianjurkannya berpuasa yang menguatkan apa yang disebutkan pada jawaban di atas yaitu beberapa hal yang terjadi pada tanggal 10 Muharram sebagai hari kemenangan, kebahagiaan para nabi sepanjang sejarah dan bahkan konon, bumi diciptakan pada tanggal 10 Muharram. Namun banyak ulama AhlulBait khususnya yang menyatakan, bahwa hadis-hadis tersebut tidak benar, para perawinya tidak terpercaya (tsiqah) dan terkesan dibuat-buat. Khususnya alasan terakhir yang saya sebutkan, bahwa bumi diciptakan pada tanggal 10 Muharram, ini betul-betul sangat aneh, bukankah tanggalan dan hari itu menunjukkan akan perputaran bumi di sekeliling matahari atau bulan? Jika bumi, bulan dan mataharinya belum diciptakan bagaimana muncul tanggal 10 Muharram itu? Itu yang pertama.

Yang kedua andaikan semua yang disebutkan di dalam hadis itu benar adanya, namun pasca kesyahidan Imam Husain (as) tentu hukumnya harus berubah, karena malapetaka yang menimpa keluarga Rasulullah (saw) tidak ada bandingannya, sehingga kesedihan yang seharusnya dirasakan oleh seluruh umat Rasulullah yang diharuskan mencintai Rasulullah (saw) dan keluarganya akan menutup semua kejadian menggembirakan dan menyenangkan di atas.

Islat: Pada hari peringatan Asyura sering dilantunkan syair-syair yang terkesan sangat berlebihan dan mengkultuskan individu di luar batas kewajaran manusia biasa. Misalnya ada syair yang menyatakan bahwa pada hari kesyahidan Imam Husain (as) segala sesuatu di atas muka bumi bersedih dan menangis, bahkan langit pun turut berduka dan menangis. Bolehkah hal tersebut? Sebagian dari penceramah bahkan menisbatkan hal itu kepada para Imam suci AhlulBait (as). Benarkah hal tersebut?

A Beik: Kebenaran para Imam (as) dalam hadis-hadis mereka menyampaikan hal itu membutukan penelitian hadis secara komprehensif, baik sanad atau pun matannya. Namun dari segi isi (matan) tidaklah berlebihan, sebab al-Qur'an sendiri menyebutkan hal itu. Di dalam surah Ad-Dukhan ayat 29 Allah Swt menceritakan tentang Firaun dan kaumnya yang ditimpakan mala petaka dan azab Allah Swt dengan ditenggelamkan ke dalam laut, kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya: "Sungguh langit tidaklah menangis atas kematian mereka dan mereka bukanlah orang-orang yang diperhatikan". Dari ayat tersebut dapat disimpulkan, bahwa kebalikan dari kondisi mereka, yaitu jika yang meninggal dunia itu adalah Nabi Musa (as) dan pengikutnya, orang-orang mukmin yang mengikuti nabinya dengan benar, maka di saat meninggal dunia langit akan menangis dan para penduduk langit akan memperhatikan dan menyambut kedatangan ruhnya.

Imam Husain dengan keluarga dan sahabatnya tidak diragukan adalah pribadi-pribadi yang memenuhi kriteria itu. Kita pun harus berusaha agar hidup dengan iman dan amal yang baik, dalam ketaatan pada Allah dan Rasulullah (saw) sehingga di saat kita menemui ajal tidak hanya anak istri kita yang menangis, namun langit pun juga akan menangisi kepergian kita.

Islat: Apakah maksud dari ayat itu haqiqi atau majaz, atau perlu kepada takwil, yakni penduduk langit, sebagaimana firman Allah Swt; "Was alul qaryah" tanyakan pada desa, maksudnya tanyakan pada penduduk desa tersebut?

A Beik: Ada perbedaan pendapat ulama tafsir dalam hal ini, sesuai dengan metode dan mazhab penafsiran yang diyakininya, sebagian ulama seperti, Mulla Shadra yang meyakini segala sesuatu memiliki tiga alam (baca; perwujudan); materi, barzakhiy (mitsal/ pertengahan) dan mujarrad (non materi murni), maka beliau meyakininya haqiqi, jadi walaupun kita secara umum hanya mampu melihat langit sebagai materi, tak bernyawa dan mati, namun dia memiliki perwujudan lain yang hanya dilihat oleh orang khusus, dia hidup dan berlaku hukum-hukum makhluk hidup baginya.

Bagi yang tidak meyakini hal itu, maka mereka meyakininya sebagai majaz atau perlu untuk ditakwil seperti di atas. Namun hasilnya sama, bahwa boleh dan dibenarkan untuk melantunkan syair-syair seperti itu.[]

Islat: Islam Alternatif
A Beik: Ustadz Abdullah Beik MA [Ketua Departemen Pendidikan Islamic Center -Al-Huda- Jakarta]

Sunday, November 11, 2012

Tujuan Imam Husain Berhijrah dari Madinah ke Makkah

Tanya: Untuk apa Imam Husain as. memulai perjuangannya dengan berhijrah dari Madinah menuju Makkah?

Jawab: Sebabnya adalah, saat itu Yazid memerintahkan Walid bin Utbah (gubernur Madinah), melalui surat yang ia tulis, untuk meminta bai’at dari beberapa orang penting, yang salah satunya adalah Imam Husain as., dan tidak boleh melepaskan mereka sebelum bai’at didapat.[1]

Meski Walid lebih memilih untuk bersikap baik terhadap Imam Husain as.[2] dan tak bersedia menumpahkan darahnya, akan tetapi ia selalu mendapat desakan dari orang-orang seperti Marwan bin Hakam untuk membunuh beliau. Sebagaimana yang kita ketahui, begitu Walid mendapatkan surat dari Yazid, ia langsung bermusyawarah dengan Marwan, lalu Marwan berkata, “Pendapatku adalah, segera kau utus utusanmu untuk membawa mereka kesini, lalu mintalah bai’at dari mereka. Jika mereka bersikeras tak mau memberikan bai’at, maka pisahkanlah kepala mereka dari badannya sebelum mereka tahu tentang berita kematian Mu’awiyah! Karena jika mereka sampai mengetahui berita kematian Mu’awiyah, maka setiap salah seorang dari mereka akan berpencar dan masing-masing mengajak banyak orang untuk melawan kita semua!”[3]

Imam Husain as. tidak dapat berbuat apa-apa di Madinah dan nyawanya pun terancam. Hal ini cukup untuk menjadi alasan beliau berhijrah meninggalkan kota itu.

Satu lagi yang dapat menguatkan kemungkinan ini adalah ayat yang dibaca oleh beliau ketika hendak memulai perjalanannya ke Makkah. Sebagaimana yang ditulis oleh Abu Makhnaf, Imam Husain as. pergi meninggalkan Madinah bersama rombongan keluarganya seraya membaca ayat yang menukil kata-kata nabi Musa as. ketika ia pergi meninggalkan Mesir karena merasa tidak aman di sana.[4] Ayat tersebut berbunyi: “Lalu ia keluar dari Mesir dalam keadaan takut dan berkata, “Wahai Tuhanku, selamatkan aku dari kaum yang zalim.”[5]

Beliau memilih untuk pergi menuju Makkah pada saat berita kematian Mu’awiyah tersebar luas dan orang-orang yang menentang pemerintah belum memulai aksi penentangan mereka. Saat itu beliau juga belum mendapatkan satu pun surat dari warga kota-kota lain, seperti Kufah, agar beliau berjuang bersama mereka. Oleh karenanya beliau harus memilih tempat yang, pertama, benar-benar membuat beliau merasa nyaman di sana agar dapat mengungkapkan pandangan-pandangannya kepada masyarakat setempat dengan leluasa, dan kedua, dari situ beliau dapat menyebarkan pemikirannya ke seluruh penjuru negri Islam.

Kota Makkah saat itu memiliki dua kriteria sebagai kota yang diinginkan oleh beliau. Kota Makkah adalah tempat yang aman sebagaimana disebut dalam ayat, “…dan barang siapa memasukinya, maka tempat itu aman untuknya.”[6] Di kota tersebut terdapat Haram Ilahi yang aman untuk siapapun. Berbagai kelompok Muslimin dari segala penjuru dunia pasti datang ke sana untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah. Dengan demikian Imam Husain as. dapat menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mengungkapkan pandangan dan pemikirannya tentang mengapa ia menentang Yazid bin Mu’awiyah, sekaligus beliau juga dapat mengajarkan beberapa masalah agama yang sekiranya diperlukan oleh orang-orang yang beliau temui di sana; apa lagi beliau harus selalu terhubung dengan Muslimin yang berada di beberapa kota penting seperti Kufah dan Bashrah.[7]

Imam Husain as. memasuki kota Makkah pada malam Jum’at tanggal 3 Sya’ban tahun 60 H. dan terus melakukan aktifitasnya di sana hingga tanggal 8 Dzul Hijjah pada tahun itu juga.[8]


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Waq’atu at Thaff, halaman 76. Yazid berkata, “Paksalah Husain, Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Umar untuk memberikan bai’atnya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak membai’at! Wasalam.”

[2] Ibnu A’tam, Al Futuh, jilid 5, halaman 12; Waq’atu at Thaff, halaman 81.

[3] Waq’atu at Thaff, halaman 77.

[4] Ibid, halaman 85 dan 86.

[5] Surah Qashash, ayat 21.

[6] Surah Ali Imran, ayat 97.

[7] Waq’atu at Thaff, halaman 103-107.

[8] Ibid, halaman 88.

Tangisan Nabi saat Imam Husain Lahir


Ketika Rasulullah saw mendengar berita kelahiran Imam Husain, ia menuju rumah buah hatinya, Fathimah Azzahra. Sedangkan langkahnya berat, sambil bersedih ia terus berjalan. Dengan suara parau penuh kesedihan, berkata kepada Asma’, “Bawa kemari cucuku…”

Asma menyerahkan bayi mungil bercahaya itu kepada nabi. Beliau memeluk dan terus menerus menciuminya. Namun tak lama kemudian beliau tak mampu menahan tangis; hingga Asma’ kebingungan seraya bertanya mengapa beliau menangis?

Rasulullah saw menjawab, “Sungguh aku menangisi cucuku ini…”

Asma’ tetap tidak faham. Berhati-hati ia bertanya, “Bukankah ia baru lahir? Seharusnya anda gembira…”

Nabi menjawab, “Kelak sekelompok durjana akan membunuh cucuku ini. Semoga Allah menjauhkan syafa’atku dari mereka.”

“Janganlah kau beritakan hal ini kepada Fathimah, karena ia baru saja mendapatkan kebahagiaannya.”, kata beliau sambil bangkit dari duduknya.

Rasulullah saw pergi meninggalkan rumah Fathimah dalam keadaan sedih, karena beliau telah mendengar berita ghaib tentang apa yang akan terjadi pada cucunya nanti.
 

N.a.i.n.a.w.a. Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers